Mendongkrak Kemampuan Literasi

Berdasarkan penilaian Progamme for International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) yang baru pertama kali diikuti Indonesia tahun 2016, disimpulkan bahwa hasil capaian Indonesia masih memprihatinkan, demikian dikutip dari Tribunnews.com.

Dari 34 negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), hasil penilaian kemampuan numerasi, literasi serta kemampuan memecahkan masalah para responden masyarakat dewasa di Jakarta, sebagai representasi dari Indonesia berada di peringkat paling bungsu.

Penilaian tersebut menunjukan, kemampuan responden dalam menangkap pesan dan mencari informasi penting di sebuah kalimat sederhana berada di level dibawah 1 (dengan skala nilai 1-5).

Bahkan responden yang telah menyelesaikan perguruan tinggi, memiliki keterampilan baca tulis lebih rendah dibanding keterampilan warga Yunani dan Denmark biasa yang hanya menamatkan pendidikan tingkat SMP.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan mengatakan ini sebagai sinyal bahaya terhadap peradaban masyarakat Indonesia. “Ini salah satu dampak dari rendahnya minat baca masyarakat,” katanya saat mendampingi siswa siswi SD dan SMP membeli buku murah dalam rangka Program Gerakan Literasi Sekolah di Gudang Buku Gramedia, Bandung.

Menurut Netty, semakin sering seseorang membaca maka semakin tajam kemampuannya untuk mengolah informasi, sehingga dapat berdampak signifikan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kebiasaan membaca sejak dini. Menanggapi hal tersebut, Netty mengungkapkan langkah-langkah yang dapat diambil guna mendongkrak minat baca masyarakat.

Pertama, meningkatkan kualitas perpustakaan termasuk sumber daya manusia pustakawan. Adakah pelatihan pustakawan agar dapat melayani pengunjung dengan ramah dan komunikatif.

Kedua, melalui pembenahan perpustakaan, menambah koleksi buku dan melengkapi fasilitas di perpustakaan, seperti tempat ibadah, kafetaria dan akses internet.

Ketiga, harus ada kebijakan-kebijakan yang bersifat regional maupun nasional. Salah satunya penetrasi pada kader PKK dan lomba-lomba mendongeng para ibu.

Keempat, menyikapi kemajuan teknologi bukan dengan menghujat dampat negatif teknologi, namun dengan membangun program-program literasi yang menarik bagi anak-anak, seperti belanja buku bersama sebagai bagian dari outdoor activities di sekolah.

Kelima, mengingat dalam konteks rumah tangga yang belum memprioritaskan buku di daftar belanja karena kurangnya daya beli, Netty akan mengarahkan Dinas Pendidikan untuk bekerja sama dengan toko-toko buku, guna menyediakan buku-buku berkualitas namun harganya terjangkau, seperti Great Sale yang digelar Gramedia. “Anak-anak akan lebih termotivasi dan semangat memilih buku bersama kawan-kawannya,” kata Netty yakin.

Masyarakat luas juga diharapkan dapat berpartisipasi dalam meningkatkan minat baca, khususnya untuk anak-anak. Salah satu program literasi inovatif yang sudah tersedia saat ini misalnya adalah “Kidsletter” dari Mindscape Center yang bisa dilihat lebih detail di halaman http://kidsletter.ecwid.com Melalui Kidsletter, anak-anak bisa berlatih berinteraksi dengan baca-tulis, sharing wawasan, mendapatkan motivasi, sekaligus belajar untuk mengungkapkan pendapat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>